Diversifikasi Energi di Indonesia, Perlukah Dipaksa?

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman

- Koes Plus, Kolam Susu

Siapa tak kenal petikan lagu Koes Plus di atas? Lagu ini menunjukkan betapa luar biasanya tanah Indonesia. Istilahnya, ongkang-ongkang kaki saja sudah bisa hidup. Memang lagu ini ditulis bukan tanpa dasar. Indonesia adalah negara tropis berposisi geografik strategis, berkawasan luas sekitar 1,3% luas muka Bumi (tepatnya luas daratan 191 juta hektar dan teritori laut 473 juta hektar termasuk Zona Ekonomi Eksklusif), bergaris pantai terpanjang di dunia (sekitar 81.000 km), dan penduduk yang jumlahnya 231,6 juta jiwa per 2007.

Read More

Kita ini harusnya jadi alatnya Tuhan, tapi banyak dari kita yang memperalat Tuhan untuk kepentingan diri sendiri. Kita ini harusnya bermanfaat bagi bangsa, tapi seringkali malah kita memanfaatkan (isu ke)bangsa(an) untuk pencitraan kita sendiri. Kita ini seharusnya mengangkat nama almamater dengan pekerjaan kita yang sebaik-baiknya, tapi kenyataannya malah lebih sering hanya almamater yang mengangkat nama kita saat kita mencari kerja. — Adri Kristian TK ‘06. Menampar Dri.
Warning untuk para chemical engineer (khususnya) untuk gak cuma bisa ngerjain soal ujian doang, tapi juga harus punya sense of engineering. Jadi kepikiran prosol yang “cuma” ngebantuin ngerjain soal doang, bukan memberikan pemahaman yang komprehensif. Hadehhhh

Warning untuk para chemical engineer (khususnya) untuk gak cuma bisa ngerjain soal ujian doang, tapi juga harus punya sense of engineering. Jadi kepikiran prosol yang “cuma” ngebantuin ngerjain soal doang, bukan memberikan pemahaman yang komprehensif. Hadehhhh

Share dikit dari Adri TK06. Nyatanya kita sudah net importer sejak 2004 kok.

Share dikit dari Adri TK06. Nyatanya kita sudah net importer sejak 2004 kok.

Dr. Haldor Topsoe, ilmuwan Denmark pendiri perusahaan katalis dan teknologi proses Haldor Topsoe (FYI pabrik ammonia di Pupuk Kaltim memakai proses Haldor Topsoe untuk mensintesis amonia dari gas alam).

Beliau ini mungkin dapat dikatakan salah satu role model saya untuk mendirikan sebuah perusahaan sintesis teknologi. Padahal, dulu impian gila saya adalah mendirikan perusahaan EPC (engineering, procurement, and construction). Belakangan, saya mempelajari bahwa perusahaan EPC “tidak sejago itu”, mereka “hanya” menghubungkan vendor teknologi proses, vendor alat proses, dan konstruktor sehingga suatu plant bisa berdiri. Kenapa tidak buat perusahaan EPC yang bisa sintesis teknologi sekalian? Ingin rasanya saya mendirikan perusahaan semacam Topsoe ini.

Alasannya, sebulan kerja praktek di pabrik pupuk urea, saya menemukan fakta bahwa semua proses sintesis amonia dan urea ditemukan oleh orang bule (ambil contoh proses Kellogg, Brown-Root, atau ICI AMV) atau mentok-mentoknya Asia Timur (Toyo ACES). Lebih jauh lagi, nyaris semua alat proses dan benda-benda high-tech lain yang ada di tempat KP saya buatan luar negeri (heat exchanger dari Italia dan Denmark, katalis dari Inggris, pompa dari Jepang). Padahal bangsa kita bukan tidak mampu membuat alat proses (ada boiler merek Basuki lho). Pernah denger sih mengenai teori konspirasi perputaran uang dan sebagainya. Tapi cerita dari teman yang kerja praktek di pabrik urea lainnya mungkin cukup memberikan gambaran sih: salah satu pabrik yang dirancang oleh perusahaan EPC lokal justru lebih sering shutdown dibanding pabrik lain yang usianya jauh lebih tua tapi dirancang oleh perusahaan EPC asing terkemuka. Kenapa coba?

Yah, tetap saja, there is much to learn. Saya bukan belum siapa-siapa. Saya cuma mahasiswa semester 7 yang bahkan IPnya gak cum laude. Tapi tidaklah salah untuk bermimpi, bukan? :)